CINTA PERTAMA DIHALTE
Langit senja itu
tiba-tiba berwarna pekat, tiupan angin sangat kencang, kilat dan petir
hanya berselang detik kemudian meledakkan suara dahsyat, deras air
membasahi bumi pertiwi, basah, dan kemudian air itu tergenang. 1 jam,
waktu cukup lama untuk duduk menunggu derasnya hujan.
Halte bus penuh dengan manusia-manusia yang
menunggu redanya hujan, ada puluhan orang disitu, juga Dahlia. Ia baru
saja pulang dari les di sekolah. Ia basah kuyup menunggu bus
mengantarnya.
“Kamu basah kuyup” Tanya Wahyu
“Ya…Aku lupa bawa payung”
Bus penjemput datang. Dahlia dan wahyu naik
dan bus tersebut mengantarnya. Mereka memang se arah dan selalu
bersama-sama dalam bus tersebut, hampir tiap hari jika Wahyu tak
mengendarai roda dua. Walau mereka beda sekolah.
“Kamu duduk di situ” Menunjuk bagian tempat
duduk yang kosong
“Kamu…”Sahut Lia
“Aku berdiri saja, kamu kan perempuan”
“Makasih”
25 Menit berdiri, Wahyu merasa pegal juga,
namun karena tak ingin melihat seorang gadis menderita akbiat tak
kebagian tempat duduk, maka ia rela untuk berdiri dan memberikan kepada
Lia tempat duduk yang kosong tersebut. Tak lama dalam perjalanan orang
yang disamping Lia berdiri hendak turun.
“Dek..Kamu duduk di sini, aku sebentar lagi
turun di depan” sahut penumpang yang duduk di samping Lia
“Terima Kasih Kak…”
Mereka berdampingan namun tak saling bertutur
sapa, yang ada hanya tanda tanya di kepala Wahyu dan Lia, entah..mau
mulai darimana pembicaraan sedangkan mereka baru berkenalan, walaupun
mereka selalu bersama dalam bus.
20 menit tak ada sepata kata pun yang keluar,
baik dari mulut Wahyu maupun dari mulut Lia. Wahyu memperhatikan Lia
merasa kedinginan, ia mengeluarkan Jaket dan memberikan ke Lia.
“Maaf..kalau kamu tak keberatan, ini saya
pinjamkan jaket”
“Terima kasih…saya merepotkan”
“Tak apa…pakaianmu basah, dan kau perempuan”
Lia memakai jaket tersebut, tak lama
kemudian, wahyu turun dari bus tersebut, belum sempat berbicara panjang
lebar.
Esoknya dengan niat, Lia mau mengembalikan
jaket yang ia pinjam dari Wahyu, ia mencarinya di atas bus…sesekali
matanya liar ingin melihat wajah dari Wahyu namun tak jua ia dapatkan.
Dalam hati ia kerap bertanya ke mana wahyu, apa ia sakit karena kemarin
kehujanan, atau ia sudah terlebih dahulu berangkat ke sekolah, atau
mungkin dia mengendari roda duanya ke sekolah. Pertanyaan itu menjadi
teman hingga turun di depan SMA Negeri 2 Maros.
“Hay…Lia…Wajahmu kok murung…., ada apa
cantik?”
“Hay..Rah….Ngak apa-apa”
“Lho…kok jaket kak wahyu ada sama kamu?”
“Oh…kemarin aku telat pulang, dan pakaianku
basah, jadi Kak wahyu meminjamkan aku”
“Ehm….”
Suara bel berbunyi, penanda jam pertama, Lia
dan Rahma bergegas ke kelasnya, karena materi pelajaran kali ini olah
raga. Siswa kelas XII IPA1 mengganti pakaian dari putih abu-abu ke
pakaian olah raga, ada pula yang memang sudah mempersiapkan sebelumnya.
“Lia…kamu dengan kak Wahyu, uda jadian? Bisik
Rahma
“Ah….tidak kok….kami cuma berteman, itupun
baru aku kenal kemarin”
“Kamu serius….? Dengan nada penasaran
“Kak wahyu pernah bercerita kepadaku bahwa
sebenarnya ia suka ke kamu, ia rela berdesak-desakan di atas bus yang
kamu tumpangi hanya mau menatap kamu, katanya senyum, dan matamu yang
memikat dia”
“Dari mana kamu tahu….”
“Bagaimana aku tidak tahu, kalau aku tetangga
dengan dia, ia selalu ke rumahku, untuk menanyakan kamu ke sekolah atau
tidak, dia pernah mengatakan bahwa ia baru kali ini jatuh cinta”
Rupanya cinta telah terpaut dalam hati Wahyu
kepada Dahlia, ia rela kehujanan dan kedinginan untuknya. Pagi itu,
Dahlia tahu segalanya dan disaksikan oleh embun yang memancarkan cahaya
air di daun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar